Literasi dan budaya baca secara substansi saling terkait sebagai upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia. Literasi merupakan fondasi bagi setiap orang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Secara kontekstual dan fungsional, literasi berkaitan erat dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Upaya pengembangan literasi diarahkan untuk mewujudkan masyarakat gemar belajar dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Menggali Siswa Berpotensi Dari Pinggiran

Upaya menumbuhkan literasi telah dikembangkan oleh UNESCO sejak tahun 1972 dengan prioritas meningkatkan pembinaan minat baca melalui program “Buku untuk Semua” (Books for All). Di Indonesia, upaya menumbuhkan literasi juga telah dilakukan sejak tahun 1948 oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada saat itu, program yang dilakukan adalah pemberantasan buta aksara yang dilaksanakan di seluruh pelosok nusantara. Sampai saat ini, literasi menjadi isu penting bidang pendidikan di tingkat global yang harus diterapkan dalam konteks lokal di negara masing-masing. Karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pun terus berupaya melakukan berbagai upaya dan terobosan dengan menyelenggarakan kegiatan literasi dan peningkatan minat baca. Salah satunya adalah Gerakan Indonesia Membaca (G I M) yang dicanangkan sejak tahun 2015 telah diterapkan di 47 kabupaten/ kota dan disosialisasikan untuk direplikasi kabupaten/kota lainnya di setiap provinsi.

FOKUS GIM yang dilaksanakan secara lintas sektoral, diperkuat dengan program Kampung Literasi, yang saat ini telah direalisasikan di 73 desa serta bantuan fasilitas sarana TBM, diharapkan menjadi langkah kolaboratif antara pemerintah dan seluruh komponen masyarakat dalam penyediaan sarana dan prasarana serta proses pembelajaran menuju masyarakat yang memiliki budaya baca dan tingkat literasi yang baik. Pelaksanaan GIM yang berkesinambungan dan menjangkau daerah-daerah di Indonesia, termasuk daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (Daerah 3T) pada akhirnya diharapkan bisa menciptakan masyarakat yang menjadi pembelajar sepanjang hayat, yang memiliki kompetensi dan karakter, yang mendorong kemajuan bangsa dan negara serta mewujudkan peradaban manusia yang lebih baik. Saat ini Dinbiktara Ditjen PAUD Dikmas Kemendikbud telah mendukung pendirian 200 Kampung Literasi dan asuransi pendidikan anak terbaik.

Peta Jalan GLN
Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di sekolah, masyarakat dan keluarga. Literasi juga terkait dengan menumbuhkan budi pekerti mulia. Peta jalan Gerakan Literasi Nasional Kemendikbud (2017) mendefinisikan literasi sebagai: suatu rangkaian kecakapan membaca, menulis, dan berbicara, kecakapan berhitung, dan kecakapan dalam mengakses dan menggunakan informasi; sebagai praktik sosial yang penerapannya dipengaruhi oleh konteks; sebagai proses pembelajaran dengan kegiatan membaca dan menulis sebagai medium untuk merenungkan, menyelidik, menanyakan, dan mengkritisi ilmu dan gagasan yang dipelajari; dan sebagai pemanfaatan teks yang bervariasi menurut subjek, genre, dan tingkat kompleksitas bahasa.

Semuanya mengarah pada pemahaman multiliterasi, dengan fokus pada literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, dan literasi budaya dan kewargaan. Adapun pembelajaran yang bersifat multiliterasi ini memadukan karakter dengan penekanan pada lima utama, yaitu nasionalisme, relijius, mandiri, integritas, gotong-royong, serta kompetensi abad ke-21 yang mengembangkan kreativitas, kecakapan berpikir kritis, kemampuan komunikasi, serta kolaborasi. Semuanya ini diharapkan dapat menjadi bekal kecakapan hidup sepanjang hayat.